StockHaven – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tetap berada pada level tinggi sebesar 146,2 miliar dolar AS, meskipun mengalami penurunan dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan global bond pemerintah, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
BI menjelaskan, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dilakukan sebagai langkah responsif terhadap dinamika eksternal yang masih penuh tekanan. Meski menurun, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut jauh berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar 3 bulan impor.
Menurut BI, tingkat cadangan devisa tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Kondisi ini memberikan ruang yang cukup bagi Indonesia untuk menghadapi potensi tekanan global, termasuk volatilitas pasar keuangan internasional dan risiko geopolitik.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan eksternal Indonesia akan tetap terjaga seiring posisi cadangan devisa yang memadai serta berlanjutnya aliran masuk modal asing. Persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan daya tarik imbal hasil investasi domestik dinilai menjadi faktor utama penopang. BI juga menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


