spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaEmitenTransformasi TPIA Dorong Integrasi Energi, Kimia dan Infrastruktur Regional

Transformasi TPIA Dorong Integrasi Energi, Kimia dan Infrastruktur Regional

StockHaven – Di tengah dinamika industri global yang semakin kompleks, PT Chandra Asri Pacific Tbk (IDX: TPIA) memaparkan arah transformasi bisnisnya menuju perusahaan solusi energi, kimia dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara. Transformasi ini merupakan respons terhadap perubahan lanskap industri, volatilitas harga energi, serta kebutuhan penguatan rantai pasok regional yang semakin terintegrasi.

Di sisi lain, peluang domestik dinilai masih terbuka lebar.  Sekitar 50% kebutuhan petrokimia nasional masih dipenuhi melalui impor, sementara pertumbuhan permintaan Indonesia melampaui rata-rata global. Kesenjangan tersebut menjadi landasan strategis bagi  TPIA untuk memperkuat kapasitas produksi, mendorong substitusi impor, sekaligus menciptakan nilai tambah termasuk peluang kerja di dalam negeri.

Selama ini dikenal sebagai salah satu pelaku utama industri petrokimia nasional, TPIA kini memperluas cakupan bisnisnya melalui penguatan ekosistem terintegrasi yang mencakup sektor kimia, energi, dan infrastruktur. Model ini dirancang untuk membangun struktur bisnis yang lebih kokoh, memperdalam integrasi vertikal dan horizontal,  menciptakan efisiensi biaya dan keamanan pasokan , serta memperluas dampak ekonomi melalui pembukaan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung. 

Direktur Sumber Daya Manusia & Corporate Affairs Chandra Asri Group, Suryandi, dalam diskusi bersama media pada 24 Februari 2026, menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem tersebut menjadi fondasi utama strategi pertumbuhan perusahaan.

“Muaranya adalah bagaimana kami bisa membangun sebuah ekosistem yang saling menguatkan di bidang energi, kimia dan infrastruktur, sebagai satu kesatuan yang dapat diandalkan dan siap bersaing di level Asia Tenggara.  Dengan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten, kami telah berkembang dari akar lokal menjadi perusahaan petrokimia terbesar keempat di Asia Tenggara.”

Suryandi menambahkan bahwa  secara kapasitas produksi, Perseroan memproyeksikan adanya akselerasi yang signifikan. Dari sekitar 4,2 juta ton pada 2024, kapasitas terintegrasi TPIA diproyeksikan meningkat hingga lebih dari 21 juta ton pada 2027, atau tumbuh hampir lima kali lipat seiring ekspansi aset dan integrasi regional yang dijalankan Perseroan.

Dalam mendukung transformasi dan pengembangan bisnis ke level regional, TPIA juga tengah mengintegrasikan aset yang ada di Indonesia dan Singapura untuk mengoptimalkan  feedstock, produksi, utilitas, dan logistik secara end-to-end sekaligus memperluas akses pasar kawasan.

Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Group, Edi Riva’i, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa pengembangan jejaring ekosistem lintas negara dilakukan untuk memastikan efisiensi rantai nilai dari hulu hingga hilir. “Integrasi ini memungkinkan  alur produksi yang lebih efektif dan efisien, sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan berkelanjutan.  Di saat yang sama, ekspansi ini juga membuka peluang kerja baru dan mendorong kompetensi talenta nasional. “ Jelas Edi 

Sebagai bagian dari penguatan struktur bisnis, TPIA juga mengembangkan proyek strategis Pabrik Chlor Alkali & Ethylene Dichloride (CA-EDC) untuk memperkuat pasokan bahan kimia domestik serta mendukung substitusi impor.  Proyek in telah mencapai  progres konstruksi lebih dari 50% dan ditargetkan memproduksi 400 KTA kaustik soda dan 500 KTA EDC.  .  Secara strategis, pembangunan fasilitas ini turut memperkuat ketahanan industri dan kemandirian pasokan bahan kimia nasional.

Melalui substitusi impor kaustik soda serta potensi ekspor EDC ke pasar Asia Tenggara, proyek CA-EDC diproyeksikan dapat menciptakan nilai ekonomi hingga sekitar Rp10 triliun per tahun. Selain itu, proyek ini juga diperkirakan dapat menyerap hingga sekitar 3.250 tenaga kerja selama fase konstruksi dan operasional sekaligus menciptakan efek berganda bagi industri pendukung dan UMKM di kawasan sekitar. 

Selain itu, perusahaan juga membentuk Chandra Asri Sentral Solusi (CASS),  entitas shared service yang berfungsi sebagai pusat layanan back office terintegrasi. Saat ini CASS difokuskan untuk mendukung operasional Aster dan ke depan ditargetkan dapat memperluas layanan ke pihak eksternal. Hingga tahun depan, pengembangan CASS diproyeksikan dapat menyerap sekitar 200 tenaga kerja seiring peningkatan kapasitas dan cakupan layanan.

Melalui transformasi dan ekspansi yang dijalankan, TPIA memperkuat posisinya di tingkat regional tetapi juga mendukung agenda hilirisasi nasional, mengurangi ketergantungan impor dan memberikan efek berganda bagi industri dalam negeri.

Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta Utama, turut mengapresiasi langkah transformasi TPIA yang dinilai mampu memperluas model bisnis dari sektor petrokimia berkembang menjadi perusahaan penyedia solusi energi, kimia dan juga infrastruktur secara terintegrasi.

Menurut Nafan, upaya transformasi tersebut telah direspons dengan baik oleh pelaku pasar, karena terbukti berimbas positif terhadap kinerja Perseroan secara keseluruhan. Ia menyoroti kemampuan TPIA mencatat rebound signifikan pada 2025, dengan laba bersih yang melonjak drastis dibandingkan periode sebelumnya yang masih mencatatkan kerugian.

Secara umum, financial snapshot terbaru menunjukkan bahwa TPIA memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp618,6 triliun, dengan rasio price earning (PER) di kisaran 28–29 kali, lebih tinggi dibanding rata-rata industri.

“Selain itu, dengan transformasi juga, TPIA jadi semakin gencar melakukan akuisisi strategis, seperti Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, lalu juga jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura, dan banyak lagi yang lain. Ini tentu sangat positif dari sudut pandang pelaku pasar,” ujar Nafan.

Meski begitu, Nafan juga mengingatkan bahwa di tengah keunggulan yang dimiliki, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dimitigasi, antara lain margin keuntungan yang dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dan harga produk kimia global, serta kondisi oversupply industri petrokimia dari China yang berpotensi menekan harga jual produk.

“Satu lagi, saham TPIA seringkali diperdagangkan dengan rasio price earning (PER) dan PBV (price to book value) yang jauh di atas rata-rata industrinya, sehingga termasuk dalam kategori valuasi premium. Ini membuat harga saham jadi rentan terkoreksi, jika pertumbuhan yang diharapkan pasar rupanya tidak tercapai dengan tepat waktu,” ujar Nafan.

spot_img

latest articles

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini