StockHaven – PT Astra International Tbk (“Astra” atau “Perseroan”) mencatat kinerja solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, dengan laba bersih sebesar Rp24,5 triliun, turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp25,9 triliun. Jika tidak memperhitungkan penyesuaian nilai wajar atas investasi di GoTo dan Hermina, laba bersih Astra mencapai Rp24,7 triliun, atau turun 6% year-on-year (yoy).
Penurunan laba terutama disebabkan oleh harga batu bara yang lebih rendah, sementara kontribusi dari lini bisnis lain seperti pertambangan emas, jasa keuangan, agribisnis, dan infrastruktur mencatat peningkatan. Di sisi lain, kinerja otomotif relatif stabil meskipun pasar mobil nasional melemah akibat penurunan daya beli pada segmen entry-level.
Pendapatan bersih konsolidasian Grup mencapai Rp243,6 triliun, turun tipis 1% yoy. Nilai aset bersih per saham meningkat 6% menjadi Rp5.609, sementara posisi kas bersih (tidak termasuk anak usaha jasa keuangan) naik signifikan menjadi Rp13,4 triliun dari Rp8,0 triliun pada akhir 2024.
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa meski tertekan harga komoditas, Astra tetap menunjukkan ketahanan operasional yang kuat. “Kontribusi solid dari bisnis-bisnis nonbatu bara mendukung resiliensi kinerja Grup. Kami tetap fokus menjaga disiplin keuangan dan keunggulan operasional untuk menangkap peluang pertumbuhan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ujarnya.
Dari sisi segmen usaha, divisi Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan laba 8% menjadi Rp6,7 triliun, sementara Agribisnis naik 34% menjadi Rp853 miliar dan Infrastruktur meningkat 28% menjadi Rp935 miliar. Sebaliknya, divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi yang dikelola melalui PT United Tractors Tbk mengalami penurunan laba 26% menjadi Rp7 triliun akibat harga batu bara yang menurun.
Dalam memperkuat portofolio bisnisnya, Astra melakukan sejumlah aksi korporasi strategis pada kuartal III 2025. Perseroan meningkatkan kepemilikan di PT Medikaloka Hermina Tbk menjadi 20,2% dan menyelesaikan akuisisi 83,7% saham PT Mega Manunggal Property Tbk (MMP), guna memperluas portofolio properti industri dan logistik. Selain itu, Astra juga menandatangani perjanjian akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas di Sulawesi Utara senilai USD540 juta.
Sebagai langkah memperkuat nilai pemegang saham, Astra mengumumkan program pembelian kembali saham (share buyback) senilai maksimum Rp2 triliun yang akan berlangsung pada 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026. Langkah serupa juga dilakukan oleh anak usahanya, PT United Tractors Tbk, dengan nilai maksimum yang sama.
“Kedua program buyback ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan dan kemampuan Astra menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, serta mendukung stabilitas pasar modal nasional,” kata Djony.
Astra tetap optimistis menatap sisa tahun 2025 dengan fokus pada diversifikasi bisnis, penguatan operasional, dan penerapan disiplin keuangan yang berkelanjutan untuk menjaga ketahanan Grup di tengah dinamika ekonomi global.


