StockHaven – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau SURGE membukukan pendapatan sebesar Rp1,57 triliun pada Semester I 2026 (tidak diaudit), meningkat 206% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang transformasi bisnis perseroan yang beralih dari fase pembangunan infrastruktur digital menuju monetisasi aset yang telah dibangun.
Kontributor utama pertumbuhan berasal dari segmen telekomunikasi yang mencatat pendapatan Rp1,28 triliun atau meningkat 357% secara tahunan (year on year/YoY). Segmen ini menyumbang 82% dari total pendapatan perseroan, meningkat dari sekitar 55% pada Semester I 2025. Kinerja tersebut didukung oleh basis pelanggan HomeConnect Fiber-to-the-Home (FTTH) yang mencapai 1,85 juta pelanggan serta peluncuran komersial layanan HomeConnect Fixed Wireless Access (FWA) pada akhir Februari 2026.
Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk, Shannedy Ong, mengatakan Semester I 2026 menjadi titik balik bagi perseroan setelah beberapa tahun berfokus membangun infrastruktur digital. Menurutnya, strategi perusahaan kini diarahkan untuk mengoptimalkan setiap aset jaringan agar menghasilkan pendapatan berulang. Ia menilai pertumbuhan pendapatan telekomunikasi sebesar 357% menjadi indikasi awal bahwa transisi tersebut berjalan sesuai rencana.
Memasuki kuartal II 2026, pendapatan segmen telekomunikasi meningkat 17% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ). Di sisi lain, pendapatan konsolidasi relatif stabil karena pertumbuhan bisnis telekomunikasi diimbangi penurunan pendapatan dari segmen perdagangan (trading) sebesar 58% QoQ dan iklan sebesar 37% QoQ. Pergeseran tersebut mencerminkan perubahan bauran bisnis menuju sumber pendapatan berbasis layanan konektivitas yang bersifat berulang.
Perseroan juga mencatat EBITDA sebesar Rp948,9 miliar atau tumbuh 117% YoY dan 13% QoQ. Margin EBITDA tetap terjaga pada level 60,4%, meski lebih rendah dibandingkan 85,2% pada Semester I 2025. Penurunan margin dipengaruhi meningkatnya kontribusi bisnis telekomunikasi ritel yang secara struktural memiliki margin lebih rendah dibandingkan proyek infrastruktur, namun menawarkan pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Shannedy menyatakan kemampuan mempertahankan margin EBITDA di atas 60% pada fase ekspansi terbesar dalam sejarah perseroan mencerminkan disiplin dalam belanja modal dan pengendalian biaya. Menurutnya, pergeseran menuju bisnis telekomunikasi ritel memang menurunkan margin, tetapi membangun basis pendapatan yang lebih berulang dan lebih mudah diproyeksikan dalam jangka panjang.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih konsolidasi SURGE mencapai Rp496,8 miliar atau meningkat 118% YoY. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp331,2 miliar, naik 45% YoY dan 1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Hingga 30 Juni 2026, kas dan setara kas perseroan mencapai Rp8,29 triliun setelah penerbitan obligasi dan sukuk pada semester pertama, sedangkan utang bersih tercatat Rp1,77 triliun atau sekitar 0,9 kali EBITDA tahunan, mencerminkan struktur permodalan yang dinilai tetap konservatif di tengah ekspansi jaringan.
Pada sisi operasional, layanan HomeConnect FTTH mencatat 1,85 juta pelanggan atau meningkat 377% YoY. Selama kuartal II 2026, perseroan menambah sekitar 153.000 pelanggan baru. Sementara itu, layanan HomeConnect FWA membukukan 513.040 pelanggan atau bertambah sekitar 303.600 pelanggan pada kuartal penuh pertama sejak peluncuran komersial. Perseroan menilai capaian tersebut memperkuat potensi FWA sebagai alternatif akuisisi pelanggan yang lebih cepat dan efisien dibandingkan pembangunan jaringan serat optik di sejumlah wilayah. Blended average revenue per user (ARPU) pada kuartal II 2026 tercatat sekitar Rp108.000 per pelanggan per bulan.
Untuk memperluas penetrasi pasar, SURGE meluncurkan layanan fixed broadband Starlite Prime dan Starlite Super. Produk Starlite Super menawarkan kecepatan hingga 2 Gbps berbasis teknologi XGS-PON dan Wi-Fi 7 dengan harga Rp250.000 per bulan. Layanan tersebut memperoleh penghargaan WBBA Gigacity Champion pada ajang Broadband Development Summit APAC 2026 di Bangkok. Memasuki paruh kedua 2026, perseroan memfokuskan strategi pada peningkatan utilisasi jaringan, peningkatan ARPU melalui migrasi pelanggan ke paket berkecepatan lebih tinggi, serta peningkatan efisiensi operasional layanan FWA. Perseroan menyatakan tidak menerbitkan panduan kinerja (guidance) untuk tahun buku 2026.


