spot_img
Senin, Agustus 3, 2026
spot_img
BerandaEmitenAnalis Soroti Kekuatan Fundamental BACH di Tengah Ekspansi Infrastruktur Digital Nasional

Analis Soroti Kekuatan Fundamental BACH di Tengah Ekspansi Infrastruktur Digital Nasional

StockHaven – PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital nasional. Meski pergerakan saham perseroan pasca penawaran umum perdana (IPO) tidak seagresif sejumlah emiten lain yang melantai pada periode yang sama, analis menilai fokus utama investor seharusnya berada pada kekuatan fundamental dan model bisnis Perseroan.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Alif mengatakan bahwa pola pergerakan saham setelah IPO merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi mekanisme pasar. Menurut dia, BACH justru menunjukkan karakter perusahaan yang lebih mengedepankan pembangunan bisnis dibanding mengejar sentimen jangka pendek.

“Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu menciptakan nilai secara berkelanjutan. Dari sisi fundamental, BACH berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan hampir 40% menjadi Rp1,73 triliun pada 2025, sementara laba bersih meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp155 miliar. Itu menunjukkan pertumbuhan bisnis yang didukung kinerja operasional, bukan sekadar momentum pasar,” ujar Alif.

Ia menilai masih terdapat persepsi yang belum sepenuhnya tepat mengenai model bisnis BACH. Selama ini sebagian investor masih mengidentikkan Perseroan sebagai perusahaan penyedia generator set (genset), padahal ruang lingkup usahanya telah berkembang menjadi penyedia solusi infrastruktur yang terintegrasi.

Selain menjalankan bisnis penjualan dan penyewaan genset, BACH juga memiliki lini usaha konstruksi, instalasi, pemeliharaan, serta managed service untuk infrastruktur telekomunikasi. Layanan tersebut mencakup pembangunan BTS, pekerjaan civil mechanical electrical (CME), fiber optic deployment, preventive dan corrective maintenance, hingga mobile backup power. Diversifikasi tersebut dinilai membuat sumber pendapatan Perseroan menjadi lebih seimbang karena mengombinasikan proyek baru dengan pendapatan berulang (recurring income).

Lebih lanjut, Alif melihat prospek BACH akan semakin ditopang oleh meningkatnya investasi pada sektor telekomunikasi, perluasan jaringan 5G, fiberisasi, serta pertumbuhan industri data center di Indonesia.

“Semakin tinggi konsumsi data, semakin besar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung. Tidak hanya pembangunan jaringan, tetapi juga kebutuhan backup power, maintenance, dan layanan operasional. Di sinilah posisi BACH menjadi menarik karena berada di salah satu bagian penting dari rantai nilai infrastruktur digital,” katanya.

Menurut dia, masuknya BACH ke dalam ekosistem Grup Djarum juga berpotensi memperkuat posisi kompetitif Perseroan. Kehadiran Global Telekomunikasi Prima sebagai pengendali dinilai membuka peluang sinergi yang lebih luas dengan berbagai perusahaan di ekosistem digital Grup Djarum, seperti Protelindo, TOWR, SUPR, hingga iForte.

“Sinergi tersebut bukan hanya berpotensi menciptakan peluang proyek baru, tetapi juga meningkatkan kualitas recurring revenue melalui kontrak layanan jangka panjang. Namun tentu seluruh peluang tersebut tetap harus dijalankan berdasarkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan pertimbangan bisnis yang profesional,” jelasnya.

Selain telekomunikasi, Alif juga melihat peluang ekspansi BACH masih terbuka pada sektor lain yang membutuhkan keandalan pasokan listrik, seperti data center, manufaktur, kawasan industri, pertambangan, hingga proyek-proyek infrastruktur.

“Dengan pengalaman yang dimiliki di bidang solusi daya dan infrastruktur, Perseroan memiliki peluang memperluas pasar tanpa harus keluar dari kompetensi intinya,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Perseroan tetap menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari fluktuasi nilai tukar, ketergantungan terhadap pemasok luar negeri, persaingan industri, hingga kebutuhan modal kerja yang relatif besar.

“Faktor-faktor tersebut memang perlu dikelola dengan baik. Namun selama perusahaan mampu menjaga efisiensi, memperkuat hubungan dengan pelanggan dan pemasok, serta terus melakukan diversifikasi pendapatan, prospek pertumbuhan jangka panjang masih cukup positif,” kata Alif.

Di sisi pasar modal, Alif menilai fokus Perseroan saat ini sebaiknya tetap diarahkan pada penguatan fundamental dibanding mengejar target masuk ke indeks tertentu, seperti LQ45 maupun MSCI.

“Masuk ke indeks merupakan konsekuensi dari kinerja yang baik, bukan tujuan utama. Jika perusahaan mampu menjaga pertumbuhan laba, meningkatkan likuiditas saham, memperkuat tata kelola, dan mempertahankan kualitas keterbukaan informasi, peluang untuk memenuhi kriteria berbagai indeks akan terbuka dengan sendirinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai strategis BACH justru terletak pada transformasi model bisnisnya sebagai penyedia solusi energi sekaligus infrastruktur telekomunikasi. Kombinasi kedua lini usaha tersebut dinilai memberikan diversifikasi pendapatan, memperbesar potensi recurring income, serta menempatkan Perseroan pada posisi yang relevan di tengah pertumbuhan infrastruktur digital nasional.

“Menurut saya, pasar masih banyak yang melihat BACH sebagai perusahaan genset. Padahal, jika melihat model bisnisnya secara menyeluruh, Perseroan sudah berkembang menjadi perusahaan pendukung infrastruktur digital. Itu yang menurut saya menjadi nilai tambah yang belum sepenuhnya terefleksikan,” tutup Alif.

spot_img

latest articles

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini